Inventarisasi Artefak Balai Pelestarian Cagar Budaya

DATA BASE SEJARAH DAN PURBAKALA PROVINSI JAMBI (ARTEFAK BANGUNAN) BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

No
Foto Koleksi
Nama
Uraian Singkat
Asal Perolehan
Ket
 

1.

 

Masjid Al Falah Empelu
Pada mulanya masjid ini berukuran 15,18 x 11,12 m, pada tahun 1931 dilakukan perbaikan dan mengalami beberapa perubahan serta perluasan menjadi 19,28 x 29,48 m. Meskipun demikian, masih ada beberapa bagian yang masih asli, yakni menara, mimbar, dan hiasan di bawah kubah. Menara masjid sebelumnya berdiri terpisah dengan bangunan masjid, yaitu di sudut timur laut, tetapi sekarang berada di dalam bangunan masjid karena masjidnya telah diperbesar. Menara tersebut berbentuk segi delapan dengan tinggi 19,5 m dan terbuat dari kayu.
Semula menara merupakan tempat muadzin mengumandangkan adzan, tetapi sekarang fungsinya berubah menjadi tempat meletakkan pengeras suara. Sedangkan mimbar masjid terbuat dari kayu tembesu dan dihias dengan ukiran bermotif flora. Mimbar ini mempunyai 6 buah tiang yang dihias ukiran motif geometris. Atapnya berbentuk kubah yang bagian bawahnya berbentuk persegi delapan
 
 

2.

 

Makam Orang Kayo Hitam

Makam Islam terdiri dari nisan Orang Kayo Hitam, nisan Mayang Mangurai (istri Orang Kayo Hitam) dan nisan kucing (binatang peliharaan Orang Kayo Hitam) Makam-makam kuno mempunyai nisan yang terbuat dari batu andesit dan berukuran cukup besar. Berbentuk persegi dengan bagian atas berbentuk kurawal.

 
 
 

3.

 

Situs Lambur

Dari bentuk dan pola ikat perahu, dapat diduga perahu terbuat pada masa Klasik, yakni pada masa Hindu Budha dan sezaman dengan Kawasan Percandian Muarajambi.

Di situs ini banyak ditemukan keramik asing.  Pada tahun 1994 ditemukan sabuk emas seberat  ±   380 gram. Temuan lainnya wadah kaca kuno, batu pipisan, gandik yang terbuat dari batu pasiran serta pecahan-pecahan bata.

 

 
 
 

4.

 

Menapo Pematang jering
Gundukan tanah yang di dalamnya terdapat reruntuhan bata yang diduga sisa struktur candi. Terdapat 3 lapis bata yang ditemukan saat ekskavasi. Selain itu, di lokasi ini juga ditemukan keramik asing. Struktur bata yang diduga merupakan sisa reruntuhan candi ini terdapat di lokasi berdekatan dengan persebaran kawasan percandian Muarajambi.
Besar kemungkinan lokasi ini juga termasuk dalam rangkaian perkembangan ajaran Budha pada masa klasik.
 
 
 

5.

 

Masjid Kuno Lempur Mudik

Bangunan masjid ini berdenah bujursangkar 11 m x 11 m, tiang masjid berjumlah 16 buah, dengan bentuk keseluruhan tiang adalah persegi delapan, hiasan pada tiang berupa ukiran motif tali dan sulur-suluran. Masjid ini mempergunakan pasak kayu untuk memperkuat ikatan anatar kayu, pada bagian dinding maupun setiap sudut dihiasi ukir-ukiran dengan motif sulur-suluran dan flora.

Masjid ini diperkirakan dibangun abad 19 di masa kolonial Belanda, semula atap masjid menggunakan bahan ijuk kemudian diganti dengan bahan seng, begitu juga pada bagian lantai kayu diganti dengan menggunakan plester semen, atap masjid berupa atap tumpang bersusun dua, pada bagian puncak atap terdapat mustaka yang berbentuk bulan sabit dan bintang. Pada tahun 1931 masjid ini sudah tidak difungsikan lagi.

 
 
 

6.

 

Masjid Kuno Lempur Tengah

Bangunan masjid ini berdenah bujursangkar 12 m x 12 m. Pintu masuk berada di sebelah timur dan dilengkapi dengan tangga dan pipi tangga di kedua sisinya di atas pintu di beri hiasan berupa dua wajah yang distilir bentuk suluran. Di ruang utama terdapat tiang berbentuk segi delapan, di dalam masid terdapat mihrab, mimbar dan Maghsuro yang sudah fragmentaris pada dinding masjid dihiasi dengan ukir-ukiran. Atap masjid berupa atap tumpang yang berjumlah 2 susun pada bagian puncaknya terdapat mustaka yang berbentuk gada dengan lapik yang berbentuk bulat pipih.

Masjid ini diperkirakan pada abad 19 sama seperti pada umumnya masjid-masjid kuno di daerah Kerinci. Dahulu bangunan masjid ini berupa bangunan panggung, teta[i sekarang pada bgian kolongnya sudah di tutup dinding bata. Pada ruang utama masjid ini terdapat 12 buah tiang yang berfungsi sebagai penyangga atap, secara keseluruhan tiang ini berbentuk segi delapan, dan berhias sulur-suluran. Dinding masjid terbuat dari bahan kayu, pada dinding terdapat boluster yang berjajar berfunsi sebagai ventilasi. Sejak Tahun 1940 masjid ini sudah tidak lagi berfungsi.

 
 
 

7.

  Masjid Keramat Koto Tuo Pulau Tengah

Bangunan masjid ini berdenah bujursangkar 27 m x 27 m tinginya 14, 12 m, di dalam bangunan ini dari muhrab, mimbar ruang adzan, tangga menuju menara, 2 buah bedug dan 25 tiang sesuai dengan jumlah nabi dalam agama Islam. Tiang sokoguru bagian bawah disemen dan di beri lempengan keramik berhias flora dan geometris. Soko guru diapit 4 tiang utama terbuat dari kayu yang menyangga atap. Balkon ini dahulu digunakan sebagai tempat adzan dan sekarang tidak difungsikan lagi. Lantai baru dari semen yang dibuat lebih rendah dari aslinya, pada sisi luar pondasi ditempeli keramik berwarna putih polos dan motif tumbuhan yang dipasang berselang-seling, tangga mihrab berbentuk segilima yang agak menjorok ke depan. Atap terbuat dari seng berbentuk kubah dengan mustaka berbentuk runcing.

Dari sumber Belanda tahun 1895 disebutkan bahwa masjid ini merupakan salah satu masjid tertua, gaya arsitektur bangunan yang unik dan termegah yang ada di daerah Kerinci. Dahulu lantai masjid terbuat dari papan kayu, atap dari ijuk kini pada tahun 1926 lantai papan kayu diganti menjadi lantai semen, dan atap ijuk diganti dengan seng, dinding tetap dari papan kayu. Tahun 1927-1928 tiang soko guru diberi lapisan dari semen setinggi 4,5 m, pada tiang yang dilapisi semen dihiasi dengan keramik, disebelah atas tiang terdapat semacam balkon persegi 8 terbuat dari kayu yang mengelilingi tiang.

 
 
 

8.

 

 

Masjid Kuno Tanjung Pauh Hilir

Masjid ini berdenah bujursangkar dengan ukuran bangunan 19 m x 19 m, lantai bangunan dari ubin keramik bermotif bunga, masjid ini dikelilingi tembok 2,5 m. Pintu masuk ke ruang masjid ada dua buah di sisi timur, dengan dua buah daun pintu berukuran 1,25 m 0,86 m. Bagian atas pintu berbentuk lengkung setengah lingkaran, masjid ini mempinyai 27 tiang sebagai penyangga bangunan, tiang sokoguru tingginya 13,20 m dengan garis tengah 50 cm, tiang berdiri di atas umpak berbentuk segi delapan, dihiasi tempelan keramik bermotif bunga dan geometris. Mihrab masjid berdinding dengan pintu masuk tanpa daun pintu, di sebelah mihrab terdapat mimbar dengan 3 buah anak tangga menuju ke tempat duduk khotib.

Masjid Kuno Tanjung Pauh Ilir diperkirakan dibangun pada tahun 1920 pada masa Kolonial Belanda. Semula atap masjid ini terbuat dari ijuk kemudian pada tahun 1930 diganti dengan menggunakan seng, penggantian juga dilakukan pada dinding bagian bawah dan lantai, sedangkan mihrabnya masih asli. Bangunan masjid ini telah mengalami renovasi sebanyak tiga kali, yaitu pada tahun 1942 s.d. 1945, 1960 dan 1995 yang kesemuanya dilaksanakan atas dana swadaya masyarakat.

 
 
 

9.

 

 

Candi Teluk Kuali

Pada tahun 1980 ditemukan sebuah arca Buddha yang sekarang disimpan di Kantor Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi. Candi Teluk Kuali terletak di sebelah barat Sungai Batanghari dengan jarak 50 m. Candi ini masih berupa reruntuhan bata yang tertutup oleh tanah. Kondisinya sudah sangat rusak. Di tengah-tengah gundukan tanah tersebut terdapat sebuah lubang yang cukup besar dengan diameter 12,50 m dan dalam 2,10 m. Menurut masyarakat setempat lubang tersebut merupakan sisa penggalian liar yang dilakukan pada tahun 1960-an. Di sisi timur reruntuhan candi tersebut terdapat gundukan tanah yang berisi struktur bata yang diduga merupakan pagar keliling atau sisa gapura candi.

Persebaran pada masa Hindu-Budha di Provinsi Jambi dilakukan melalui jalur sungai Batanghari. Begitupula dengan reruntuhan struktur ini, kemungkinan besar merupakan bagian dari perkembangan ajaran budha pada masa klasik

 
 
 

10.

 

 

Tanksi Belanda dan Makam Sultan Thaha

Kepurbakalaan yang ada di situs ini adalah tanksi Belanda dan makam Sultan Thaha Syaifuddin. Tanksi Belanda merupakan kompleks bangunan yang terdiri atas 9 blok yang didirikan pada tahun 1830. Setiap bangunan rata-rata berukuran 8 x 60 m. Saat ini tanksi tersebut digunakan sebagai asrama Batalyon Zipur Jambi, rumah dinas Polsek Muara-Tebo, dan Kantor Pos Kecamatan Muara-Tebo. Di sebelah barat tanksi terdapat kompleks makam Belanda yang berjumlah  50  buah. Makam Sultan Thaha berada di sebelah utara tanksi Belanda dengan jarak 500 m. Saat ini makam tersebut telah diberi jirat berukuran 1,5 x 2 m dengan nisan dari semen dan diberi cungkup berarsitektur tradisional Jambi oleh Pemerintah Daerah Tingkat I Propinsi Jambi.

Dilihat dari segi arsitekturnya, sisa-sisa bangunan di lokasi ini menunjukkan cirri-ciri peninggalan masa kolonial.

 

DATA BASE SEJARAH DAN PURBAKALA PROVINSI JAMBI (ARTEFAK BANGUNAN) BALAI PELESTARIAN CAGAR BUDAYA

Comments

comments